Wajah Selalu Muncul Jerawat Saat Makeup? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Jerawat

Wajah selalu muncul jerawat saat makeup? Kenali penyebab breakout setelah makeup, kandungan yang perlu diperhatikan, serta cara mencegah jerawat muncul kembali.

vajranails – Makeup seharusnya bikin kita lebih confident, bukan malah bikin overthinking karena besoknya muncul jerawat baru. Unfortunately, sebagian orang mengalami pola yang cukup frustrating: setiap habis menggunakan foundation, cushion, concealer, atau makeup full face, beberapa jam atau hari kemudian wajah mulai breakout.

Situasi seperti ini sering membuat makeup langsung menjadi tersangka utama. Padahal, wajah selalu muncul jerawat saat makeup tidak otomatis berarti semua produk makeup buruk untuk kulit. Penyebabnya bisa lebih complicated, mulai dari produk yang menyumbat pori, aplikator yang kurang bersih, kebiasaan tidur tanpa membersihkan makeup, sampai iritasi terhadap ingredients tertentu.

American Academy of Dermatology (AAD) menjelaskan bahwa produk makeup tertentu memang dapat berhubungan dengan munculnya acne. Kondisi ini terkadang disebut acne cosmetica. Kabar baiknya, orang dengan kulit acne-prone sebenarnya tetap bisa menggunakan makeup selama memilih produk dan menjalankan skincare routine dengan tepat.

Jadi, sebelum memutuskan untuk break up dengan seluruh isi makeup pouch, lebih baik cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi.

Jerawat terbentuk ketika folikel rambut atau pori tersumbat oleh minyak dan sel kulit mati. Bakteri dan proses inflamasi kemudian dapat berperan dalam perkembangan lesi jerawat. Mayo Clinic menyebut produksi sebum berlebih, penyumbatan folikel, bakteri, dan inflamasi sebagai faktor utama yang berhubungan dengan acne.

Ketika makeup masuk ke dalam equation, ada beberapa kemungkinan.

Produk tertentu mungkin kurang cocok dengan kulit. Makeup mungkin tidak dibersihkan dengan baik. Brush dan sponge bisa menyimpan residu. Atau sebenarnya kulit sedang mengalami iritasi yang tampilannya menyerupai jerawat. Karena itu, solusi terbaik bukan sekadar stop makeup selama tiga hari lalu berharap semuanya magically disappear. Kita perlu melihat seluruh routine.

Produk Makeup Bisa Menjadi Salah Satu Pemicu

Kalau jerawat konsisten muncul setelah menggunakan produk tertentu, produk tersebut obviously perlu dicurigai.

AAD menyarankan orang dengan acne-prone skin mencari produk makeup dengan label seperti oil-free, won’t clog pores, atau non-comedogenic. Produk dengan label tersebut dirancang agar memiliki kemungkinan lebih kecil menyebabkan acne pada kebanyakan orang.

Namun, label non-comedogenic bukan guarantee bahwa produk tersebut pasti cocok untuk setiap individu. Skin is personal.

Foundation yang perfectly fine untuk teman kamu belum tentu memberikan hasil sama di kulitmu. Kalau mencurigai satu produk, coba perhatikan pola breakout. Apakah jerawat mulai muncul sejak menggunakan foundation baru? Apakah hanya terjadi setelah memakai primer tertentu? Atau masalah justru muncul ketika full makeup dipakai dalam waktu lama? Observasi seperti ini jauh lebih useful daripada langsung mengganti seluruh skincare sekaligus.

2. Tidur Masih Pakai Makeup? Big No

Setelah acara malam, wedding, atau pulang nongkrong dalam kondisi exhausted, rebahan di kasur memang sangat tempting.

Tapi jangan skip cleansing. AAD secara khusus merekomendasikan untuk selalu membersihkan makeup sebelum tidur, termasuk ketika menggunakan produk yang diklaim non-comedogenic. Makeup sebaiknya dihapus menggunakan makeup remover yang sesuai kemudian wajah dibersihkan dengan gentle cleanser.

Sepanjang hari, wajah bukan hanya membawa makeup. Ada sunscreen, minyak alami kulit, keringat, debu, dan berbagai residu lain. Tidur tanpa membersihkannya bukan exactly kondisi ideal buat acne-prone skin.

Kalau terlalu lelah melakukan skincare panjang, setidaknya jangan kompromi dengan tahap cleansing.

Your ten-step routine can wait. Removing makeup shouldn’t.

3. Makeup Brush yang Jarang Dicuci Bisa Jadi Problem

kuas makeuo VajraBeauty

Kapan terakhir kali kamu mencuci makeup brush?

Kalau jawabannya mulai dari “kayaknya bulan lalu” sampai “aku nggak ingat”, we need to talk.

Brush dan sponge bersentuhan dengan kulit, minyak, produk makeup, dan tangan secara berulang. Karena itu, kebersihan aplikator perlu menjadi bagian dari routine.

AAD menyarankan makeup brushes dibersihkan setiap minggu dan memastikan hanya kita yang menggunakan aplikator tersebut. Mereka juga menyarankan untuk tidak berbagi makeup maupun brush dengan orang lain. (aad.org)

Setelah dicuci, aplikator juga perlu dikeringkan dengan baik.

Jangan membiarkan sponge terus-menerus lembap dan disimpan di tempat tertutup.

Makeup tools are tools.

They need maintenance too.

4. Jangan Share Makeup Sembarangan

Sharing is caring, but maybe not for mascara and makeup brushes.

Kebiasaan mencoba makeup teman mungkin terlihat harmless. Namun, aplikator dan kosmetik tertentu bersentuhan langsung dengan kulit, bibir, atau area mata.

AAD menyarankan tidak berbagi makeup, makeup brushes, maupun aplikator.

Jadi, ketika teman bilang, “Coba cushion gue deh, bagus banget,” jangan langsung menggunakan puff yang sama.

Kalau genuinely ingin mencoba produknya, gunakan metode yang lebih hygienic.

Personal makeup should stay personal.

5. Jerawat atau Sebenarnya Iritasi?

Ini bagian yang sering overlooked.

Tidak semua benjolan merah setelah makeup otomatis acne.

Kosmetik juga dapat menyebabkan contact dermatitis, yaitu reaksi kulit setelah terpapar zat tertentu. Mayo Clinic menjelaskan contact dermatitis dapat menyebabkan kulit terasa gatal, kering, pecah-pecah, mengalami ruam, pembengkakan, atau muncul benjolan dan lepuhan tergantung reaksinya. Kosmetik termasuk salah satu produk yang dapat menjadi pemicu. (mayoclinic.org)

Kalau wajah tiba-tiba terasa sangat gatal, panas, perih, atau mengalami ruam setelah menggunakan produk baru, jangan buru-buru melakukan acne treatment agresif.

Bisa jadi masalahnya bukan jerawat biasa.

Menggunakan terlalu banyak active ingredients ketika skin barrier sedang irritated justru berpotensi membuat kondisi semakin uncomfortable.

6. Terlalu Banyak Skincare Sebelum Makeup Juga Perlu Dievaluasi

Skincare prep memang penting supaya makeup terlihat smooth.

Tetapi more products doesn’t automatically mean better skin.

Kalau menggunakan toner, essence, serum berlapis-lapis, moisturizer berat, sunscreen, primer, foundation, concealer, kemudian setting products, kulit akhirnya menerima banyak formula dalam satu waktu.

Bukan berarti layering tersebut pasti menyebabkan jerawat.

Tetapi kalau kulit sedang bermasalah, menyederhanakan routine dapat membantu mengidentifikasi produk mana yang mungkin menjadi trigger.

Keep it simple.

Gentle cleanser.

Moisturizer yang cocok.

Sunscreen pada pagi atau siang hari.

Kemudian makeup yang sesuai dengan kondisi kulit.

Setelah kondisi stabil, produk lain bisa dievaluasi satu per satu.

7. Jangan Menutupi Jerawat dengan Makeup Super Tebal Terus-Menerus

Ketika jerawat muncul, instinct pertama mungkin menutupinya dengan concealer sebanyak mungkin.

Understandable.

Namun, acne-prone skin tetap membutuhkan perlakuan gentle.

AAD menekankan bahwa menggosok kulit, memencet jerawat, dan melakukan berbagai kebiasaan yang mengiritasi kulit dapat memperburuk acne. Mereka juga menyarankan penggunaan skincare dan kosmetik yang tidak menyumbat pori. (aad.org)

Kalau ingin menutupi jerawat, aplikasikan makeup secara gentle.

Jangan repeatedly menggosok area tersebut menggunakan sponge.

Dan please, jangan memencet jerawat sebelum makeup hanya karena ingin permukaannya terlihat lebih flat.

That usually makes everything worse.

8. Bersihkan Wajah dengan Gentle, Bukan Sampai “Kesat Banget”

Ada misconception bahwa wajah acne-prone harus dibersihkan sampai terasa super kesat.

Padahal, kulit bukan piring berminyak.

AAD menyarankan orang dengan acne mencuci wajah dua kali sehari dan setelah berkeringat, menggunakan gentle cleanser, serta menghindari scrubbing yang dapat mengiritasi kulit.

Setelah makeup, proses cleansing memang perlu efektif.

Namun, efektif tidak sama dengan aggressive.

Menggosok wajah keras-keras menggunakan cleansing pad atau scrub karena merasa makeup belum hilang bukan solusi ideal.

Treat your skin gently.

9. Perhatikan Produk Rambut Juga

Plot twist: penyebab breakout belum tentu makeup.

Produk rambut juga dapat berkontribusi terhadap jerawat, terutama di area hairline dan dahi. AAD menyebut minyak dalam produk hair care dapat menyebabkan tiny breakouts di sepanjang hairline dan dahi pada sebagian orang. (aad.org)

Pomade, hair oil, conditioner, atau styling product bisa mengenai wajah.

Kemudian ketika makeup dipakai, kita mungkin menganggap foundation sebagai penyebabnya.

Karena itu, lihat lokasi jerawat.

Kalau mostly muncul di hairline, coba evaluasi produk rambut dan kebiasaan membiarkan rambut menyentuh wajah.

Sometimes the suspect isn’t even in your makeup bag.

Cara Makeup untuk Kulit Acne-Prone

Punya kulit berjerawat tidak berarti harus berhenti makeup completely.

AAD menyatakan makeup tetap dapat digunakan ketika seseorang memiliki acne selama produk dipilih dengan tepat. (aad.org)

Mulai dengan wajah dan tangan yang bersih.

Gunakan skincare preparation yang sudah diketahui cocok dengan kulit. Setelah sunscreen settle, aplikasikan makeup secara tipis terlebih dahulu.

Daripada langsung full coverage di seluruh wajah, pertimbangkan menggunakan coverage lebih tinggi hanya pada area yang membutuhkan.

Gunakan brush atau sponge bersih.

Setelah selesai, jangan lupa membersihkan makeup secara menyeluruh sebelum tidur.

Simple, consistent, hygienic.

Those three things matter.

First, jangan panic-shopping lima produk acne sekaligus.

Mengganti banyak produk dalam waktu bersamaan membuat kita semakin sulit mengetahui apa yang sebenarnya membantu atau memperburuk kondisi.

AAD menyebut beberapa bahan yang umum digunakan untuk acne, seperti benzoyl peroxide, salicylic acid, adapalene, dan azelaic acid. Masing-masing bekerja dengan cara berbeda dan tidak semua cocok untuk setiap kondisi atau setiap orang.

Treatment juga membutuhkan waktu.

Jerawat bukan sesuatu yang biasanya disappear overnight hanya karena satu kali menggunakan serum.

Untuk kasus yang ringan, skincare over-the-counter tertentu mungkin membantu. Namun, pemilihannya tetap perlu disesuaikan dengan jenis acne dan toleransi kulit.

Kapan Sebaiknya ke Dokter Kulit?

Kalau breakout hanya sesekali dan ringan, evaluasi makeup serta skincare routine mungkin menjadi langkah awal.

Tetapi ada kondisi ketika professional help lebih appropriate.

Mayo Clinic menyarankan konsultasi dengan dokter apabila acne tidak membaik setelah mencoba self-care selama beberapa minggu. Untuk acne yang persisten atau berat, dokter kulit dapat membantu menentukan treatment yang lebih sesuai. (mayoclinic.org)

Terutama kalau jerawat terasa sakit, dalam, meninggalkan bekas atau scar, atau significantly memengaruhi kepercayaan diri.

Hal yang sama berlaku kalau setelah makeup muncul pembengkakan berat atau reaksi alergi serius. Kondisi tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai breakout biasa.

Not necessarily.

Kalau wajah selalu muncul jerawat saat makeup, yang perlu dilakukan adalah mencari pattern.

Coba lihat kembali produk yang digunakan.

Apakah ada makeup baru?

Bagaimana kondisi brush?

Apakah makeup selalu dibersihkan sebelum tidur?

Apakah skincare terlalu complicated?

Apakah benjolannya benar-benar jerawat atau lebih mirip iritasi?

Kemudian lakukan perubahan secara bertahap supaya trigger lebih mudah ditemukan.

Makeup dan kulit sehat tidak harus menjadi dua hal yang mutually exclusive.

Banyak orang dengan acne-prone skin tetap bisa menggunakan makeup. Yang penting adalah memilih produk dengan lebih mindful, menjaga kebersihan aplikator, membersihkan wajah secara gentle, dan memahami bagaimana kulit bereaksi terhadap produk tertentu.

Karena goal-nya bukan mendapatkan kulit yang terlihat flawless hanya ketika memakai foundation.

Goal yang jauh lebih sustainable adalah punya routine yang membuat kulit tetap nyaman with or without makeup.

Referensi

  1. American Academy of Dermatology Association (AAD). I have acne! Is it okay to wear makeup? Panduan penggunaan makeup pada kulit acne-prone, pemilihan produk non-comedogenic, pembersihan makeup, serta kebersihan aplikator.
    https://www.aad.org/public/diseases/acne/causes/makeup
  2. American Academy of Dermatology Association (AAD). 10 Skin Care Habits That Can Worsen Acne. Informasi mengenai kebiasaan skincare yang dapat memperburuk acne, termasuk scrubbing dan penggunaan produk yang berpotensi menyumbat pori.
    https://www.aad.org/public/diseases/acne/skin-care/habits-stop
  3. American Academy of Dermatology Association (AAD). Are Your Hair Care Products Causing Breakouts? Informasi mengenai hubungan produk rambut dengan breakout di area hairline dan wajah.
    https://www.aad.org/public/diseases/acne/causes/hair-products
  4. Mayo Clinic. Acne – Symptoms and Causes. Referensi mengenai faktor utama pembentukan acne dan karakteristik jerawat.
    https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/acne/symptoms-causes/syc-20368047
  5. Mayo Clinic. Acne – Diagnosis and Treatment. Informasi mengenai perawatan acne serta kapan perlu mempertimbangkan konsultasi medis.
    https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/acne/diagnosis-treatment/drc-20368048